terenyuh angin senja di rembang kemerahan
menyapa dengan belaian lembut dan sekejap merebak
jiwanya menahan tetesan airmata keduaan akan terjatuh
di pangkuan ruang sepi bernama kehampaan..
sosok itu tenggelam dalam lamunan diri…
menerima pertanyaan dari langit,
dia kembalikan untuk tercinta ibu bumi…
dia menggoreskan sepotong ranting kusam dan
mulai menulis dengan irama tak berketentuan
aku akan sabar menanti engkau tuntaskan kisahmu
bisik angin senja meneduhkan gemuruh dalam dada
sepotong hati terkoyak pecahkan medali kepercayaan
tatkala dihampiri kepahitan yang sangat perihkan hati
sebuah luka yang kembali menganga untuk dikenang
darah segar terhambur lepas memerahi putih hatinya
sementara sembilu nan berkilat tajamnya,
menghunjam tepat di atas jantungnya…
tanda sejati kehidupannya. dia pastilah sudah mati sekarang,
ketika hidupnya terambil oleh luka bernanah
dalam tapak kaki yang seharusnya selalu kokoh
untuk menopang semangat dalam perjalanan
menyibak tirai demi tirai misteri kehidupan
mencari rahasia alam pikiran sendiri.
andai pun tak sempat mati seketika…
berapa lama lagi waktu akan berdamai
ketika nganga luka itu tak pernah henti
menghirup aroma racun kehidupan yang pasti
mempercepat kematiannya.
kematian bagi sepotong jiwa yang sedang hidup
mati jiwa di dalam nyawa kehidupan itu sendiri…
………. Jakarta,12 Desember 2006 \ untukmu perempuan
0 Responses to “jiwa mati terluka hidup”